My lovely X-IPA-1 SMAK Kalam Kudus Bandung

I’d never dreamed to be a teacher, evenless be a home mother teacher (wali kelas). But God’s plans are always amazing. This January 2013 I started working as a Physics teacher, and on the new academic year (2013/2014), God entrusts 25 pupils in X-IPA-1 to me as their home mother teacher. I was doubt receiving that credo. That’s my first time and I didn’t know what I have to do for them.

Now is December 2013. I have been their home mother teacher for one semester.
I found, they are lovely! They are nice! And I fall in love with them.

They are smart, creative, polite… 🙂
They are unique!

Thank you for letting me be your part, X-IPA-1… ❤ ❤ ❤

 

X IPA 1 SMAK Kalam Kudus Bandung 2013/2014

X IPA 1
SMAK Kalam Kudus Bandung
2013/2014

Advertisements

Happy Belated Birthday, Memel!

Happy Belated Birthday, Memel!

Ulang taunnya sih uda lewat yah kira-kira sebulan, tapi baru dirayain hari Sabtu dan Minggu (22-23/06/13) kemarin. Dia tinggalnya di luar kota Bandung sih. Hehehe… Jadi baru kemarin ketemu.

Begitu liat kuenya, “Aduuuuh ga mau gw makan ah kuenya… Lucu pisan… Ga tega…”

Well, oke, gw juga penasaran si kuenya tahan berapa lama. Hihihihi….

Happy belated birthday, Memel! Best friend forever!

Nulis (lagi)..

Art… Seni…

Yang pertama-tama kebayang tuh tarian, musik, lukisan. Tulisan ga kebayang!!! Itu baru muncul setelah dipikir-pikir! Bwahahaha… Malah dibalik mikirnya, tulisan itu apa ya? Eh dia kan seni menulis makanya ga kaku. Sepuluh orang, sepuluh cara menulis. Seribu orang, seribu cara menulis!

Jumat lalu, 21 Juni 2013 diajak ngobrol sama Bang BDJT. Disuruh nulis lagi. Kyaaa….. Nulis itu kan susah banget….. >o< Orang kalo nulis bisa panjang-panjang dan berisi, gw nulis pendek aja belum tentu berisi. Di kampus aja ikutan proyekan dosen, ternyata harus bikin laporan. Dan laporan itu kan tulisan. O M G…. Dulu aja rasanya lulus S1 bikin Tugas Akhir (TA) bisa beres rasanya uda sembah sujud puji syukur alhamdulYesus halleluya, ini disuruh nulis lagi pula. Ya tapi memang menulis itu harus dilatih sih. Jadi ya udalah dicoba saja, toh ini juga sedang liburan. Daripada kejadian-kejadian penting terlupakan, mending ditulis sebelum ada larangan menuliskan kisah pribadi di blog.

Trus hari ini ketemu temen kuliah yang emang penulis (wow kk wow!!!), ya jelaslah didorong untuk menulis lagi. Oke deh, gw mulai nulis lagi, dengan gaya pecicilan gw, bahasan yang ringan-ringan, mungkin mostly cerita kekocakan, kegilaan, dll. dari pengalaman pribadi gw. 😀 Hihihi….. Enjoy!

I am, the checkpoint center…

Aloha blog! ^____^

Gw terjebak di lingkungan sahabat-sahabat kuliah yang luar biasa. Tapi Tuhan punya cerita lain buat hidup gw pastinya. :’)

Temen baik gw semasa kuliah cuma lima orang… Begitu kuliah selesai, cabutlah mereka semua. FR S2 ke Inggris sekarang kerja di Singapur, VS S2 ke Belanda, Swedia, trus jalan-jalan seputar Eropa, GS S2 ke Jepang, SWM kerja ke Riau tak lupa training ke mana-mana (Malaysia, Kanada, US), dan BS kerja ke Papua. Sementara gw? Taon pertama di ibukota Indonesia, sekarang kembali ke kota halaman, Bandung tercinta.

Kalo mereka kembali ke tanah Jawa, mereka ga lupa menghubungi dan menyempatkan bertemu dengan gw. Senangnya… :’) Tapi sebenernya antara seneng ato sedih juga sih. Seneng tentu saja karena ketemu, sedih karena koq gw masih di sini sini aja ya… Kenapa ga ada di antah berantah gitu jadi gw ga jadi checkpoint center tiap mereka pulang. Bwahahaha…. Sampe ada becandaan gw begini, “Oke deh, tar suatu hari nanti gw ke Antartika ajah biar beda sendiri!” Wkwkwk….. Tapi itu betulan cuma becandaan gw loh.. Gw sih masih berharap S2 di negara normal lah, bukan di kutub. LOL… 😀

Ini beberapa foto checkpoint mereka sama gw. #sokiye Wkwkwkwk……..

Image

2011.12.25 Tiba-tiba VS pulang pas Natal 2011. Yang ini mah ga sengaja ketemu di Aula Simfonia Jakarta. *ga termasuk checkpoint* LOL..

Image

2012.06.02 Jemput SWM yang baru dateng dari Duri di Bandara Soekarno Hatta

2012.07.30 VS balik lagi. *sering amat ya baliknya?* Trus nonton konser bareng di Goethe, abis itu lanjut ke Citos. Sushi and ice cream.

2012.07.30 VS balik lagi. *sering amat ya baliknya?* Trus nonton konser bareng di Goethe, abis itu lanjut ke Citos. Sushi and ice cream. *mw minum tapi bar nya uda tutup. haha… emang ga boleh*

Image

2012.08.12 BS off! Ketemu di BTC sebelom dd balik ke Jakarta. Ketemu dan menyampaikan buku dari VS (yg sampe sekarang blom beres gw baca karena bahasanya Inggris.. *beurat*) ^^v

Image

2012.08.24 BS masih off. FR balik ke Indo (hampir) dengan gelar M.Sc nya! Wow! Foto bareng2 di Giggle Box Ciwalk nya ada di iPad/laptop WMM. Adanya cuma foto tampang ketua geng motor BS dengan milkshake strawberry unyu. *WMM mah ga masuk itungan lah ya walopun sohib. Da masih sama-sama di Bandung. Hehe….*

Image

2012.08.29 SWM off lagi… Trus mampir ke kantor deh… (trus SWM, RT, dan gw nongkrong di mushola perempuan) Haha… Jadi reuni super kecil TF2007 ceritanya.

2012.10.04 GS balik! Trus ntraktir2 Pizza Hut gitu deh... SHH sama gw kecipratan rezeki. :D

2012.10.04 GS balik! Trus ntraktir2 Pizza Hut gitu deh… SHH sama gw kecipratan rezeki. 😀

2012.11.18 SWM off.. And Sushi-den!

2012.11.18 SWM off.. And Sushi-den!

2012.12 VS pulang (lagi). Foto bego-begoan di photobooth Kasablanka... (poho uy)

2012.12 VS pulang (lagi). Foto bego-begoan di photobooth Kasablanka… (poho uy)

2013.01.28 Sebelum FR mulai kerja di SG, BS lagi off. Sushi-den *ini tempat kayaknya jadi favorit*

2013.01.28 Sebelum FR, S.T., M.Sc mulai kerja di SG, BS lagi off. Sushi-den *ini tempat kayaknya jadi favorit*

2013.05.11 SWM off lagi...  J.Co Ciwalk. Sama-sama pake baju Joger... #penting

2013.05.11 SWM off lagi… J.Co Ciwalk. Sama-sama pake baju Joger… #penting

2013.05.18 Truly quality time with FR. Setiabudi Supermarket. Dahsyaaat!

2013.05.18 Truly quality time with FR. Setiabudi Supermarket. Dahsyaaat!

2013.06.12 SWM training di Jakarta. Jadi kumpul deh. :D

2013.06.12 SWM training di Jakarta. Jadi kumpul deh. 😀

2013.06.24 VS uda balik dengan gelar M.Sc nya! Wuooo... Dan tempatnya adalah Sushi-den (lagi)!

2013.06.24 VS uda balik dengan gelar M.Sc nya! Wuooo… Dan tempatnya adalah Sushi-den (lagi)!

Mmm…. Mungkin ada foto-foto yang kelewat tapi segini lumayan lah memorinya. Sudah dituliskan. Bwahahahaha….. 😀 😀 😀

Great friends, great time!
Kalo pulang lagi jangan lupa hubungi checkpoint center lagi ya… Wkwkwk….
Ayo nih, GS dan BS ditunggu lagi kedatangannya… (sebelum dede beneran ke Antartika)…. Wkwkwkwk….. #kidding

Simple thing to keep your faith in Jesus

I learned how faith works. 🙂

Two daya ago I had known that I have to go to Jakarta to meet someone in Le Meridien Hotel Jakarta. Since that time I had wished Jakarta not to rain on the next day. But on my way closer to Jakarta it was raining hard. I kept praying to God to stop the rain. But the rain didn’t stop. I thought it would be very difficult for me to walk with my rucksack, violin, and umbrella! I didn’t want to be wet…

Luckily the car passed Grand Indonesia. I asked the driver to stop so I could walk under canopy. I had lunch in Grand Indonesia then I waited for taxi that will bring me to Le Meridien Hotel.

Queing for taxi, finally I got one. I got kind driver also. When I first entered the taxi, it was still raining. But it slightly stopped. Wow!

The traffic was so crowded. The hotel was on the opppsote of my place so I decided to quit from the taxi and use pedestrian bridge crossing the road. And finally I arrived in Le Meridien Hotel and I was dry! I even didn’t use my umbrella. 🙂

I know how faith works.

Thank you, Lord Jesus..
Your timing is also the best!

Jingle LEO

Saya tak dapat menuliskan segala yang ada di benak ini dengan rapi dan teratur. Izinkanlah saya menuliskan apa yang dapat kuingat dan kutuliskan walaupun tidak dengan alur yang baik. 🙂

Kemarin ini di LEO Leadership Camp yang diadakan oleh Leo Clubs Multi District 307 Indonesia ada kompetisi membuat jingle leo per kelompok. Kelompokku, BELALANG, kebagian membuat jingle leo pakai lagu Iwak Peyek. Hihihi….. Kami sekelompok mengarang kata-katanya dan membuat gerakannyaBegini bunyinya…

Nyanyikan dengan nada Iwak Peyek ya!

Oh LEO Clubs… Oh LEO Clubs… Oh LEO Clubs Indonesia
Kami muda dan mengabdi untuk rakyat Indonesia

Tiap tahun ikutan campLeadership camp Indonesia
LEO beken, berkomitmen, emang LEO paling keren

Oooo oooo oooo ooooo
Oooo ooooo oooo ooooo

B’lalang ijo… B’lalang ijo… Kami k’lompok paling ngaco
Sampe tue… Sampe tue… LEO Clubs paling OKE!

Dan ternyata dengan kata-kata tersebut dan goyangan dangdut, kelompok kami menjadi pemenang lomba jingle leo! Horeeee…….

Gerakan akhir Jingle Leo "Iwak Peyek"

Emang LEO paling OKE!!!

Memanjakan Mata di Dieng

“Ren, bangun, Ren!”
“Mmm…. Jam berapa ini?”
“Uda jam setengah empat pagi…”
“Mmm…. Masih ngantuk… Uu uda bangun belom?”
“Belom ini gw mau bangunin.”
“Oke deh. Gw bangunin Silvi.”

…………

Percakapan itu memulai hari Seninku, 4 Februari 2013.
Sungguh senang rasanya bisa terbebas dari hiruk pikuk kesibukanku untuk beberapa saat. Aku berada di Wonosobo. Kabarnya, nikmat sekali menikmati matahari terbit (sunrise) dari Dieng. Tentunya aku tergiur sehingga teman-temanku dan aku memutuskan untuk memanfaatkan hari terakhir di Wonosobo ini untuk berjalan-jalan ke Dieng. Belum ke Wonosobo rasanya bila belum ke Dieng.

Pukul empat pagi kami sudah jalan dari Kota Wonosobo menuju Dieng. Sesampainya di sana, gelap masih mendominasi. Ditambah dengan udara dingin. Brr… Beku rasanya. Kami menunggu di mobil karena tidak kuat dengan suhu pagi hari Dieng, mungkin sekitar 14˚ Celcius.

Pukul lima lebih semperempat, sang surya mulai menampakkan cahayanya. Kombinasi warna yang dibentuk olehnya sungguh cantik! Oranye, kuning, biru muda! Ah! Cantik nian memang karya Sang Pencipta!

Matahari Terbit di Dieng

Matahari Terbit di Dieng

Tidak menyia-nyiakan keberadaan kami di Dieng, kami lanjut ke Komplek Candi Arjuna. Sebelumnya kami isi perut dulu dengan kentang goreng khas Dieng dan tak lupa minum susu atau kopi panas untuk menghangatkan badan.

Sepi sekali di sana! Bedan dengan tempo lalu waktu aku berkunjung ke sana. Hanya ada tak lebih dari sepuluh orang! Mungkin karena masih pagi. 🙂 Bagus juga untuk kami. Kami bisa berfoto dengan puas pastinya tanpa tambahan pemandangan wisatawan lain. Hehe…

Tiket masuk untuk berkunjung ke Komplek Candi Arjuna cukup sepuluh ribu rupiah saja, itu pun sudah termasuk tiket untuk ke Kawah Cikidang. Awalnya kami bayar lima puluh ribu rupiah untuk lima orang termasuk supir, tapi petugasnya mengembalikan sepuluh ribu rupiah dan berkata, “Supir gratis!” Wow! Hadiah untuk Pak Supir tentunya untuk mengantar kami berjalan-jalan dan dia pun berjalan-jalan.

Berikut beberapa foto kami di Komplek Candi Arjuna dan Kawah Cikidang. Oh ya, letak Komplek Candi Arjuna dan Kawah Cikidang ini lumayan jauh, harus ditempuh dengan menggunakan kendaraan lagi. Asyiknya, pemandangan dalam perjalanan ini pun sungguh mempesona. Mata sungguh dimanjakan!

Komplek Candi Arjuna

Komplek Candi Arjuna

Pemandangan Dieng

Pemandangan Dieng

Siapapun akan segera tahu kalau sudah sampai di area wisata Kawah Cikidang. Bau belerangnya menyambut kedatangan siapapun yang berkunjung ke sana! Tidak peduli kau orang mana, umurmu berapa, kaya atau miskin, asalkan sedang tidak pilek, bau belerang itu pasti menusuk hidungmu!

Kawah Cikidang

Kawah Cikidang

Setelah puas, bertolak lagi kami ke Telaga Warna. Area wisata ini harus ditempuh lagi menggunakan kendaraan dan pengunjung diwajibkan membeli tiket masuk lagi seharga enam ribu rupiah per kepala. Kali ini Pak Supir tidak digratiskan. Mau itu supir ataupun tuan atau nyonya, semua disamaratakan harus membayar tiket masuk tersebut.

Dalam benakku, Telaga Warna memiliki banyak warna: merah, kuning, hijau, biru, dll. Sedikit kecewa aku saat melihat ternyata Telaga Warna hanya berwarna hijau dan hitam. >,< Ternyata kata orang sana, aku salah datang. Kalau mau saat telaganya memang berwarna, datanglah pada bulan Juli atau Agustus, alias pada musim kemarau. Kalau musim hujan seperti saat aku datang, warnanya ya begitulah. Ini pertanda kali lain aku harus kembali ke Dieng supaya bisa kudapatkan gambar seperti yang kuambil dari jepretan orang lain itu.

Telaga "Dua" Warna

Telaga “Dua” Warna

Telaga Warna

Katanya, Telaga Warna bisa se-warna-warni ini loh…

Kejadian kurang mengenakkan hati hanya terjadi ketika mobil hendak meninggalkan area parkir Telaga Warna. Pak Supir memberikan dua ribu rupiah sebagai biaya parkir, tapi penjaga tak berseragam meminta lima ribu rupiah. Langsung aku menanyakan karcis parkirnya dan dia tidak bisa memberikannya tapi malah beralasan ini itu ini itu. Uuuh…. Memang lima ribu rupiah bukan masalah bagi kami untuk memberikannya, tapi ya mbok yang benar saja. Kalau memang tarif parkirnya lima ribu rupiah ya akan kami bayarkan sesuai yang tertera di karcis. X_X Ini nih yang kadang-kadang membuat turis malas berwisata ke Indonesia. Harganya ga tertulis dengan jelas, siapa jago menawar ya dapat murah. Tidak bisa menawar, ya nasib. -_-”

Secara garis besar, menghabiskan empat jam di Dieng menyenangkan koq! Memanjakan mata jauh dari layar kaca, layar ponsel, layar lebar, dan layar tancap (eh?!). 🙂 Menikmati hijaunya alam, karya Tuhan Yang Maha Esa.

Memaknai, Bukan Menghafal

Buku adalah jendela pengetahuan. Ya, semenjak kita masih kecil guru-guru dan orang tua telah menggaungkan kalimat itu. Mereka menekankan akan pentingnya membaca buku. Buku dapat memberikan jawaban akan pertanyaan-pertanyaan kita. Buku juga dapat memberikan pelajaran hidup.

Bagi saya pribadi, membaca buku bukanlah sekedar membaca, tetapi memaknai isi buku tersebut. Setelah menghabiskan suatu buku, saya harus tahu apa inti dari buku tersebut, apa pelajaran yang dapat saya ambil darinya. Tak mungkin si buku tidak meninggalkan pesan baik tersirat maupun tersurat.

Kegemaran membaca saya tak lepas dari peranan orang tua. Sewaktu kecil, mereka membelikan banyak buku cerita tipis bergambar menarik. Seingat saya buku-buku tersebut berukuran persegi, di bagian atas halaman depan buku bertuliskan “Seri Cerita Dunia”. Cerita berkualitas didukung dengan gambar-gambar menarik membuat saya melahap buku itu sampai habis. Di akhir cerita, editor buku tak pernah lupa memberikan pelajaran moral yang dapat dipetik. Karena terbiasa dengan “moral yang dapat dipetik” dari buku-buku bacaan saya semasa cilik, dengan sendirinya setiap membaca bacaan saya dapat menarik kesimpulan dan pelajaran dari wacana tersebut.

Berkenaan dengan memetik pelajaran dari wacana, saya hendak menuliskan sedikit pengamatan dari pengalaman kemarin. Dalam rangka hut ke-3 Leo Club Bandung Liberty, Sabtu, 3 November 2012 kami mengadakan perayaan ulang tahun dengan menggelar kompetisi story telling, kompetisi drama, dan lomba mewarnai di sebuah sekolah dasar di kota Bandung. Tentu sekolahnya bukan sekolah mewah. Hanya terdapat empat ruang kelas untuk enam tingkat yang bersekolah. Perpustakaan pun tidak tersedia. Maka dari itu sekolah tersebut kami pilih untuk sasaran bakti sosial kali ini.

Tujuan bakti sosial tersebut tak lain dan tak bukan untuk meningkatkan minat baca anak-anak. Kegiatan ini dilaksanakan sejalan dengan sasaran Lions Clubs International President, Lion Wayne A. Madden, yang dalam program kerjanya beliau menekankan Reading Action Program (RAP). Kami berpikir, dengan mengadakan kompetisi story telling, si anak mau tak mau membaca cerita yang kami berikan, berusaha memahami dan mengambil maknanya, serta menceritakan ulang dengan bahasa mereka sendiri. Begitu pula dengan kompetisi drama. Anak-anak mau tak mau membaca cerita yang kami berikan, menerjemahkannya ke dalam naskah, berkreasi sesuai kreativitas mereka, dan mementaskannya di depan para juri dan teman-teman. Di samping itu, baik kompetisi story telling maupun kompetisi drama akan memacu keberanian anak-anak untuk tampil di depan kawan-kawannya.

Dalam tulisan ini saya hanya akan menuliskan pengamatan saya terhadap kompetisi story telling.
Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, kami (panitia penyelenggara: Leo Club Bandung Liberty) ingin anak-anak memahami cerita yang telah kami berikan, menceritakan dengan bahasa mereka sendiri, dan membagikan makna apa yang mereka dapatkan dari wacana yang dibacanya. Namun, dari delapan belas peserta, tak sampai setengahnya menceritakan bacaan tersebut dengan kata-kata mereka. Lebih dari setengahnya menghafalkan kata demi kata, kalimat demi kalimat, sampai titik koma dan tanda baca lainnya!!! Dalam hati saya hanya tepok jidat (karena kemarin tidak mungkin tepok jidat di hadapan anak-anak kecil nan lugu itu). Ya ampun, mereka tidak tahu artinya story telling kah? Gemas, saya pun membaca cepat salah satu dongeng kemudian memberi mereka contoh seperti apa story telling itu seharusnya. Tapi tetap saja peserta berikut-berikutnya maju masih dengan gaya bercerita sama, yaitu membacakan cerita dongeng di luar kepala. Saya hanya bisa tepok jidat lagi (di dalam hati tentunya).

Wajar saja sebagian besar anak tidak dapat mengisahkan ulang sampai akhir cerita. Sampai setengah jalan, mereka lupa kalimat selanjutnya apa. Karena tidak ingat kalimat selanjutnya, buyar semua ingatan sampai akhir cerita. Saat juri menanyakan apa pelajaran yang dapat dipetik dari cerita yang barusan mereka ceritakan, sebagian besar dari mereka pun tidak dapat menjawab pertanyaan juri. Saya, lagi-lagi tepok jidat di dalam hati, teman-teman! X_X Tapi tak mengecewakan, juara kompetisi story telling memanglah si anak yang patut mendapatkannya. Dia dapat bercerita menggunakan bahasa tubuhnya, kalimat-kalimatnya sendiri, dan dapat menarik makna dari wacana yang diceritakannya.

Itulah sepotong deskripsi pengalaman saya kemarin siang.
Saya tertarik untuk sedikit menganalisis kebiasaan menghafal anak kecil. Dalam kompetisi story telling, jelas sebagian besar dari mereka menghafalkan bacaan tersebut. Saya tak menyalahkan mereka. Seingat saya, zaman saya duduk di bangku SD pun bila ada ulangan PKN, IPA, Bahasa Indonesia, ataupun pelajaran lainnya, saya pasti menghafalkan poin-poin maupun definisi SAMA PERSIS dengan apa yang dituliskan di buku, catatan dari guru, atau stensil. Karena salah sedikit saja itu berarti disalahkan oleh guru dan tidak bisa mendapatkan nilai sempurna. Sebenarnya kebiasaan itu terus berlanjut sampai saya SMA. *jadi robot sampai SMA* Barulah bangku perkuliahan menuntut saya untuk berpikir kreatif. Membaca untuk memahami, bukan lagi membaca untuk menghafalkan.

Nah loh, jadi sebenarnya siapa yang salah?
Saya tidak berani menghakimi. 🙂 Tapi saya sangat menyarankan kreativitas anak-anak semenjak kecil dikembangkan. Jangan sampai anak-anak itu dididik menjadi robot, menghafal mati apa yang tertulis di buku. Jika hanya bisa meniru, kapan anak bangsa dapat mengembangkan Indonesia? Plagiat deh nanti jadinya. *eeeh di luar topik* Hehehe…

Intinya, marilah kita membaca untuk memahami dan memaknai. Bukan untuk menghafalkan. Cari pemahaman!

Janji Palsu

Beberapa dari kita pasti tidak asing mendengar “fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”. Ya. Itulah bunyi dari Undang-undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 34 Ayat 1. Di bangku Sekolah Dasar (SD), saya sempat menghafalnya.

Pertanyaannya, sekedar hafalankah? Makin beranjaknya umur, saya sadar ayat dalam UUD 1945 adalah janji Negara Indonesia bagi masyarakatnya. Yang namanya janji, tentu harus dipenuhi. Sayangnya, saya belum melihat penggenapan janji Negara untuk ayat tersebut, yakni memelihara fakir miskin dan anak terlantar.

Hampir di setiap lampu merah, fakir miskin dan anak terlantar menantikan penggenapan janji Negara. Sebelum janji—yang mungkin sebatas janji palsu—dipenuhi, mereka berusaha menyambung hidup dengan meminta belas kasihan insan-insan bermotor atau bermobil pribadi, bahkan meratap pada mereka yang memanfaatkan fasilitas kendaraan umum. Hari demi hari dijalani mereka seperti itu. Jalan dari satu kendaraan ke kendaraan lainnya sambil menadahkan tangan dan menerima banyak penolakan. Sambil tentunya mereka tetap menantikan penggenapan janji yang tercantum dalam UUD 1945.

Dalam pasal 34 ayat 1, Negara dijadikan pihak yang bertanggung jawab. Negara sendiri terdiri dari pemerintahan dan rakyat. Rakyat, berarti kitapun termasuk di dalamnya. Secara tidak langsung, kita—insan yang terlahir lebih beruntung dari fakir miskin dan anak jalanan—ikut bertanggung jawab akan penggenapan pasal 34 ayat 1 UUD 1945 yang selama ini masih sekedar janji palsu.

Bila tidak bisa berperan langsung memelihara fakir miskin dan anak terlantar, setidaknya masyarakat dapat ikut bertanggung jawab berkontribusi bagi pemerintah supaya janji palsu itu tidak sekedar wacana. Sebagai warga negara yang baik, mungkin kita dapat membantu dengan membayar pajak tepat waktu, membayarkan nilai yang sesuai. Juga bagi setiap pekerja sekiranya bekerja dengan baik dan tidak melakukan korupsi supaya dana anggaran untuk memelihara fakir miskin dan anak terlantar dapat tersalurkan.

Fakir miskin dan anak terlantar yang sehari-hari kita lihat di jalanan adalah warga negara Indonesia juga, sama seperti kita. Undang-undang Dasar 1945 berlaku sama bagi kita dan mereka. Bagi kita—insan-insan beruntung—bunyi UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 hanyalah sekedar hafalan belaka. Tapi bagi fakir miskin dan anak terlantar, bunyi ayat tersebut merupakan secercah harapan bagi mereka mendapatkan kedidupan yang lebih baik. Mereka menanti dan terus menanti penggenapan janji itu. Bagi mereka sekarang, kalimat itu hanya sebatas janji palsu yang tak satupun tahu kapan penggenapannya akan datang. Oh, miris! Betapa kontrasnya negeri ini.